Sampit bukan kota yang lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari Sungai Mentaya, dari perahu-perahu dagang, dari rotan dan karet yang diperdagangkan ke negeri seberang. Tapi kota yang kaya sejarah ini hanya akan bermakna jika generasinya masih berpegang pada iman.
"Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada." โ (HR. Tirmidzi no. 1209, hasan shahih)
Sampit adalah kota dagang. Maka hadits ini bukan sekadar nasihat, tapi peta jalan: kejujuran dan amanah adalah dua modal yang tidak pernah tergerus zaman โ dan tidak pernah tergantikan oleh rotan, karet, maupun sawit.
Sampit, Kota yang Tumbuh dari Sungai dan Dagang
Sejak ratusan tahun lalu, Sungai Mentaya menjadi jalur hidup Sampit. Orang Dayak Ot Danum menyebutnya batang danum kupang bulan โ sungai yang membawa kehidupan. Dari muaranya, kapal-kapal dagang berlabuh membawa rempah, rotan, karet, dan gambir ke berbagai negeri.
Kota ini dibangun oleh banyak tangan dari banyak kampung: Dayak sebagai penghuni asli, Melayu dan Banjar yang datang membawa Islam, lalu saudagar-saudagar dari jauh yang singgah dan menetap. Dari perpaduan itulah Sampit tumbuh menjadi kota yang kita kenal sekarang.
Kejujuran: Mata Uang yang Tak Pernah Tergerus Zaman
Komoditas boleh berubah โ rotan pernah jaya, karet pernah berjaya, sawit kini menjadi andalan dan harganya naik turun. Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah nilainya: kejujuran. Pedagang yang jujur dan amanah tidak hanya selamat dagangannya, tapi dijanjikan tempat yang mulia di akhirat.
Di tengah harga sawit yang anjlok dan biaya hidup yang naik, godaan untuk curang โ mengurangi timbangan, berbohong soal kualitas, memakan hak orang lain โ pasti datang. Justru di saat sulit itulah kejujuran diuji, dan di saat itulah nilainya paling tinggi di sisi Allah.
Warisan untuk Generasi Sampit
Harta dan bangunan bisa habis dalam satu generasi. Yang diwariskan kepada anak-anak kita bukan sawit dan toko saja, tapi cara kita berdagang, cara kita bersikap, dan cara kita beribadah. Berikut beberapa hal yang bisa kita mulai:
- Kenalkan anak pada sejarah kotanya sendiri: Sampit tumbuh dari sungai dan dagang. Bangga jadi anak Sampit, tapi jangan lupa siapa yang menghidupkan kota ini.
- Ajarkan kejujuran sejak di rumah: pedagang yang jujur dan amanah kelak bersama para nabi. Mulai dari hal kecil โ jujur harga, jujur timbangan, jujur janji.
- Jadikan masjid dan TPA rumah kedua anak: di tengah pasar yang riuh, anak butuh tempat yang menenangkan hatinya dengan Al-Qur'an.
- Jangan biarkan kesuksesan dagang melupakan akhirat: harta yang banyak tidak menolong jika hati kosong dari iman.
- Doakan Sampit: kota yang makmur ekonominya, tapi lebih makmur lagi iman penduduknya.
Renungan: Harga sawit boleh anjlok, tapi iman jangan ikut anjlok. Kota Sampit boleh berubah wajahnya, tapi kejujuran dan amanah harus tetap menjadi identitasnya โ dari generasi ke generasi.