Sampit tumbuh karena orang-orangnya bekerja keras. Dari rotan, karet, hingga sawit, kota ini dibangun oleh orang tua yang jarang berhenti bekerja. Tapi di tengah kesibukan itu, ada satu hak anak yang sering terlupa: hak untuk mengenal Allah dan Al-Qur'an.
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." — (HR. Bukhari no. 1385 & Muslim no. 2658)
Hadits ini menegaskan satu hal: arah agama anak berada di tangan orang tua. Bukan di tangan sekolah sendirian, bukan pula di tangan guru mengaji seorang diri — orang tua adalah pemegang tanggung jawab pertama.
Realitas Orang Tua di Sampit
Sebagian besar orang tua di Kotawaringin Timur bekerja sebagai petani sawit, pekebun karet, atau buruh. Banyak yang berangkat sebelum subuh dan pulang setelah maghrib. Anak-anak dititipkan ke nenek, ke saudara, atau tumbuh sendiri di depan layar.
Ini bukan salah siapa-siapa. Mencari nafkah adalah kewajiban dan bagian dari ibadah. Tapi yang menjadi persoalan: ketika kesibukan membuat pendidikan agama anak berhenti di tempat, siapa yang akan menanggung akibatnya kelak?
Anak adalah Amanah, Bukan Sekadar Titipan
Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…" (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini dimulai dengan perintah menjaga diri, lalu langsung diikuti perintah menjaga keluarga. Artinya, keselamatan keluarga adalah bagian dari keimanan.
Anak yang kita tinggalkan pergi bekerja adalah amanah yang kelak akan ditanya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari & Muslim)
Tetap Bisa, Meski Sibuk
Kesibukan tidak mengharuskan kita menelantarkan pendidikan agama anak. Ada hal-hal sederhana yang bisa dilakukan oleh setiap orang tua:
- Titipkan anak ke tempat yang tepat: TPA atau masjid yang mengajarkan Al-Qur'an dan adab. Ini bukan lepas tanggung jawab, tapi mempercayakan amanah kepada ahlinya.
- Sediakan waktu kecil yang bermakna: sepuluh menit mengaji atau bercerita tentang Rasulullah sebelum tidur lebih berharga daripada seharian hadir tapi tak pernah mendengar suara anak.
- Doakan anak setiap selesai shalat: doa orang tua adalah doa yang mustajab. Minta kepada Allah agar anak menjadi penyejuk mata.
- Jadilah teladan: anak meniru apa yang ia lihat di rumah, bukan apa yang ia dengar dari nasihat.
- Batasi gadget, ganti dengan Al-Qur'an: layar mencuri perhatian anak lebih cepat daripada yang kita sadari.
Renungan: Di Sampit, kita bekerja keras agar anak-anak hidup lebih baik. Jangan sampai kita bekerja keras untuk memberi mereka dunia, tapi kehilangan kesempatan mengenalkan mereka pada Pencipta dunia.