🌙Ma'had Al-Abqary SampitWA Kami
BerandaTentangTPA AnakProgramKajianArtikelProgresKontak
← Kembali ke Artikel

Keluarga

Orang Tua Sibuk Bukan Alasan Anak Tak Mengaji

3 Agustus 2026

Sampit tumbuh karena orang-orangnya bekerja keras. Dari rotan, karet, hingga sawit, kota ini dibangun oleh orang tua yang jarang berhenti bekerja. Tapi di tengah kesibukan itu, ada satu hak anak yang sering terlupa: hak untuk mengenal Allah dan Al-Qur'an.

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." — (HR. Bukhari no. 1385 & Muslim no. 2658)

Hadits ini menegaskan satu hal: arah agama anak berada di tangan orang tua. Bukan di tangan sekolah sendirian, bukan pula di tangan guru mengaji seorang diri — orang tua adalah pemegang tanggung jawab pertama.

Realitas Orang Tua di Sampit

Sebagian besar orang tua di Kotawaringin Timur bekerja sebagai petani sawit, pekebun karet, atau buruh. Banyak yang berangkat sebelum subuh dan pulang setelah maghrib. Anak-anak dititipkan ke nenek, ke saudara, atau tumbuh sendiri di depan layar.

Ini bukan salah siapa-siapa. Mencari nafkah adalah kewajiban dan bagian dari ibadah. Tapi yang menjadi persoalan: ketika kesibukan membuat pendidikan agama anak berhenti di tempat, siapa yang akan menanggung akibatnya kelak?

Anak adalah Amanah, Bukan Sekadar Titipan

Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…" (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini dimulai dengan perintah menjaga diri, lalu langsung diikuti perintah menjaga keluarga. Artinya, keselamatan keluarga adalah bagian dari keimanan.

Anak yang kita tinggalkan pergi bekerja adalah amanah yang kelak akan ditanya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari & Muslim)

Tetap Bisa, Meski Sibuk

Kesibukan tidak mengharuskan kita menelantarkan pendidikan agama anak. Ada hal-hal sederhana yang bisa dilakukan oleh setiap orang tua:

Renungan: Di Sampit, kita bekerja keras agar anak-anak hidup lebih baik. Jangan sampai kita bekerja keras untuk memberi mereka dunia, tapi kehilangan kesempatan mengenalkan mereka pada Pencipta dunia.